Mengenal Perbedaan Jamu, Obat Herbal Tradisonal (OHT) dan Fitofarmaka

Obat Herbal Tradisional (OHT) kelompok ini merupakan obat yang berasal dari bahan alami seperti tanaman, hewan, bahan alam lain (mineral) atau percampuran dari beberapa bahan dasar.

Mengenal Perbedaan Jamu, Obat Herbal Tradisonal (OHT) dan Fitofarmaka
Ilustrasi Obat Herbal Terstandar (OHT), Sumber Gambar: Dok. Pixabay

Siapa yang tak kenal dengan jamu? Minuman khas Indonesia yang dipercaya dapat menjaga dan menyembuhkan berbagai penyakit ini telah dikenal sejak zaman dulu. Sumber alam yang dimiliki bumi nusantara menyediakan rempah serta tanaman lain yang bermanfaat untuk tubuh.

Kesadaran banyak orang untuk kembali ke alam semakin meningkat tinggi sejak masa pandemi ini. Banyak orang mempercayai jika rempah dan beberapa tanaman herbal lainnya dapat menjaga stamina dan meringankan sakit yang disebabkan oleh Covid-19. Rempah yang banyak digunakan diantaranya yaitu jahe, kunyit, kencur, laos, cengkeh dan temulawak.

Semakin meningkatnya penggunaan jamu membuat pemerintah melakukan pengawasan yang cukup ketat. Pembuatan jamu tradisional yang terukur, baik dari dosis maupun prosesnya menjadi hal penting yang harus segera diperhatikan. Tujuannya adalah agar tidak terjadi penyimpangan dari penggunaan jamu ataupun obat tradisional lainnya yang berdampak negatif bagi kesehatan tubuh.

Perbedaan Jamu, Obat Herbal Tradisional dan Fitofarmaka

Selain jamu, saat ini pemerintah telah membuat kelompok obat herbal yang dapat dijadikan pedoman bagi masyarakat untuk memilihnya.

  • Obat Herbal Tradisional (OHT)

Kelompok ini merupakan obat yang berasal dari bahan alami seperti tanaman, hewan, bahan alam lain (mineral) atau percampuran dari beberapa bahan dasar. Penggunaan obat-obatan ini telah dipercaya sejak zaman nenek moyang dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Penggunaan obat herbal tradisional yang tak dapat lepas dari kehidupan masyarakat Indonesia, membuat pemerintah melakukan uji praklinik dan membuat standarisasi agar aman ketika dikonsumsi.

  • Fitofarmaka

Kelompok ini tidak jauh berbeda dari Obat Herbal Tradisional karena berasal dari bahan alami. Namun bahan dan proses pembuatan obat fitofarmaka ini telah melewati uji praklinik dan uji klinik dengan tingkat standarisasi yang lebih tinggi. Oleh karena itu fitofarmaka menjadi peringkat yang paling tinggi dalam urutan obat herbal di Indonesia setelah jamu dan Obat Herbal Tradisonal.

Obat Herbal Daun Teratai (Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao)

Serangan bertubi dari virus yang tengah melanda saat ini mewajibkan semua orang waspada. Tak hanya mengobati tetapi berbagai usaha dilakukan untuk menjaga stamina tubuh sejak dini. Penggunaan obat herbal dapat menjadi solusi yang aman untuk ditempuh.

Bahan alami yang berasal dari alam akan lebih mudah diserap tubuh dan tidak memberi dampak yang fatal. Namun penggunaan obat herbal yang diracik sederhana tentu tidak dapat dijadikan jaminan. Hal ini membuat PT Daun Teratai terinspirasi untuk menghasilkan sebuah produk herbal unggulan yang berasal dari tumbuh - tumbuhan alami yang belum terjamah oleh polusi.

Ramuan yang terkandung dalam produk herbal ini diperoleh dari resep yang telah diberikan sejak zaman nenek moyang dan telah terbukti khasiatnya. Pengolahan yang dilakukan secara modern menghasilkan produk yang berkualitas tinggi dengan standarisasi maksimal. Produk Herbal Daun Teratai telah melewati uji praklinis yang dilakukan oleh tim profesional dari Universitas Gajah Mada dan tim ilmuwan Rumah Sakit Kanker Darmais.

Beberapa pasien dengan penyakit akut telah membuktikan khasiat Obat Herbal Daun Teratai ini. Dengan konsumsi yang teratur dan sesuai dosis yang dianjurkan, maka reaksi alami akan membantu meringankan gejala dan menyembuhkan penyakit yang diderita. Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao yang telah masuk kategori OHT, lolos uji BPOM dan juga telah mendapat sertifikat HALAL dari MUI dengan No. 00130111571220 juga diracik untuk dapat menjaga stamina tubuh dengan meningkatkan sistem imun.