Yuk! Menilik Seputar Perkembangan Kemoterapi dari Zaman ke Zaman

Tahun 1900 menjadi awal dikenalnya kemoterapi yang dicetuskan oleh Paul Ehrlich. Seorang ahli kimia yang berasal dari Jerman ini melakukan banyak uji coba dengan menggunakan bahan kimia untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk kanker.

Yuk! Menilik Seputar Perkembangan Kemoterapi dari Zaman ke Zaman
Ilustrasi Sejarah Perkembangan Kemoterapi, Sumber Gambar: Dok. Tribun

Tahun 1900 menjadi awal dikenalnya kemoterapi yang dicetuskan oleh Paul Ehrlich. Seorang ahli kimia yang berasal dari Jerman ini melakukan banyak uji coba dengan menggunakan bahan kimia untuk mengobati berbagai penyakit, termasuk kanker. Dia melakukan penelitian dengan mencari zat kimia yang mempunyai efek terapetik pada manusia.

Charles Huggins (1939) melakukan percobaan pengobatan terhadap kanker payudara dan kanker prostat dengan menggunakan estrogen.  Penurunan kadar asam fosfatase menjadi indikator keberhasilan dari penelitiannya sehingga memberi dampak positif terhadap pengobatan kanker pada saat itu.

Pada masa Perang Dunia II, Alfred Gilman dan Louis Goodman dari Yale University meneliti gas mustard yang biasa digunakan untuk senjata kimia. Ternyata zat ini mampu mengecilkan ukuran tumor. Sedangkan saat pascaperang dunia, Hitchings dan Elion menemukan zat yang dapat melambangkan metabolisme adenine sehingga menekan laju pertumbuhan sel kanker.

Perkembangan kemoterapi terus terjadi sesuai dengan perkembangan zaman. Para ilmuwan melakukan inovasi dari data yang sudah ada. Pertengahan tahun 1950, Charles Heidelberger mengembangkan obat kemoterapi yang ditujukan untuk kanker nonhematologi. Obat ini kemudian menjadi kiblat dari kemoterapi kanker kolorektal.

Tahun 1960 dilakukan penelitian yang lebih komperhensif lagi. Penelitian dilakukan untuk menangani kasus leukemia akut pada anak-anak dan dewasa dengan penyakit Hodgkin. Sepuluh tahun kemudian mulai dikembangkan kemoterapi ajuvan, yaitu pengobatan kanker dengan  melakukan formula obat yang dapat menghambat pertumbuhan sel abnormal.

Hingga kini upaya terobosan menemukan obat yang mampu mengatasi kanker tetap dilakukan. Ditemukannya berbagai jenis kanker menuntut ditemukannya terapi yang tepat. Kini terdapat terapi monoklonal yang dapat menangani kasus kanker dengan lebih spesifik.

Perkembangan Kemoterapi di Indonesia

Indonesia termasuk negara dengan angka kasus kanker yang tinggi. Pada tahun 2007, Sistem Informasi Rumah Sakit (SIRS) menyatakan terdapat 8.277 kasus atau sekitar 16,85%. Sedangkan pada tahun 2008 12 juta pasien telah terdeteksi kanker dan 7 juta pasien lebih meninggal akibat penyakit ini.

Medis di Indonesia pun masih mengikuti dunia, sehingga sistem kemoterapi yang dilakukan pun merujuknya. Namun para ilmuwan dan dokter di Indonesia berusaha melakukan penyesuaian dengan kondisi pasien yang mungkin berbeda dengan pasien yang ada di belahan dunia lain. Edukasi diberikan kepada setiap pasien supaya bisa menerima kemoterapi sebagai solusi mengatasi kanker. Hal ini tidak mudah karena akibat negatifnya sangat ditakuti oleh para pasien.

Atasi Akibat Kemoterapi dengan Herbal

Faktor sebab akibat dari kemoterapi membuat masyarakat Indonesia berpikir untuk kembali ke alam dalam upaya pengobatan kanker. Masyarakat mempercayai jika bahan alami yang dimiliki oleh Indonesia sangat kaya sehingga dapat bermanfaat untuk menekan perkembangan sel abnormal yang menggerogoti tubuh dan mengurangi akibat obat kemoterapi yang dipilih.

Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao produksi PT Daun Teratai racikan alami yang berasal dari China telah berhasil mengatasi gejala yang lumrah hadir setelah melakukan kemoterapi seperti mual dan pusing. Namun kondisi setiap pasien yang berbeda, tentu menyebabkan reaksi yang berbeda pula.

Seperti yang dialami oleh Fandi Himawan (18 tahun) yang divonis oleh dokter terkena kanker kelenjar getah bening. Setelah melakukan kemoterapi beberapa kali, dia mengalami gangguan pada bagian anus sehingga harus dilakukan tindakan kolostoni, yaitu pembuatan lubang di perut sebagai saluran pembuangan.

Kedua orang tua Fandi tetap melakukan kemoterapi untuk penyembuhan anaknya, tetapi mereka menggabungkannya dengan mengonsumsi Obat Herbal Daun Teratai dengan teratur. Buktinya dalam 1 tahun, kaker kelenjar getah bening Fandi dapat sembuh. Akhirnya kapsul herbal ini tetap dikonsumsi untuk memulihkan dan menjaga organ tubuh Fandi agar terhindar dari serangan kanker lagi.

Untuk diketahui bahwa kapsul Daun Teratai ini mengandung dua zat penting untuk mencegah kanker, Yaitu Polisakarida dan Germanium. Masing-masing fungsi dari dua zat tersebut adalah mencegah dan memperbaiki sel abnormal dalam tubuh, serta mampu menstabilkan sistem metabolisme. Alhasil interaksi dari dua zat tersebut menciptakan sistem adaptogen, yang mampu meningkatkan sistem imunitas tubuh.

Sehingga tak perlu ragu lagi, untuk mengkonsumsi Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao ini sebagai suplemen ampuh untuk mencegah berbagai penyakit. Bahkan belum lama ini Kapsul Daun Teratai mendapatkan label HALAL dari MUI. Begitupun dengan BPOM, telah memberikan sertifikasi bahwa kapsul ini merupakan kategori Obat Herbal Terstandar (OHT) dengan nomor ijin edar POM HT 133 300 311.

Demi menghilangkan keraguan, kapsul Chang Sheuw Tian Ran Ling Yao ini pun sudah teruji klinis dari Rs. Kanker Dahrmais. Tak hanya itu, kapsul ini juga telah lulus uji pra klinis dari farmasi Universitas Gadjah Mada (UGM).

Jika dilihat dari penghargaan pun tak main-main, Kapsul Daun Teratai mendapat penghargaan piagam NU dari Ibu Hj. Khoafifah Indar Parawangsa. Jadi, bagi Anda yang masih ragu dengan Obat Herbal Daun Teratai tak perlu khawatir. Pasalnya, obat herbal ini sudah digunakan oleh banyak pasien dan sudah menuai banyak respon positif dari mereka.